Jumat, 11 Maret 2022

Kejadian 15 1-6

Bahan Sermon Pelayan Penuh Waktu 

HKBP Distrik VIII DKI Jakarta

Ev. Kejadian 15 : 1 - 6

Berserah kepada rencana Tuhan 

Pendahuluan

Karena memiliki iman yang sungguh baik dan benar dihadapan Allah maka Abraham disebut sebagai Bapa semua orang percaya, sebab ia lebih dahulu meletakkan kepercayaannya kepada Tuhan sebelum melihat atau menerima bukti-bukti daripada janji Allah dalam hidupnya. Ia memegang janji Tuhan dan selalu setia menantikan penggenapan akan janji yang Tuhan berikan kepadanya. Dengan memiliki pengharapan tersebut membawa hidupnya pada pemahaman tiada yang mustahil jika Allah telah berkendak atau merancangkannya bagi hidup kita. Sebab apa yang telah dijanjikan Allah, hal itu pasti akan terjadi, dan semua itu terjadi bukanlah semata-mata atas upaya dan kemampuan manusia. Janji Allah kepada Abraham sudah dinyatakan pada kitab Kejadian pasal 12 sewaktu awal pemanggilan Abraham untuk melakukan perintahNya dan kemudian diulang kembali pada pasal 15 ini. Allah mengingatkan lagi janji Allah kepada Abraham bahwa keturunan Abraham akan menjadi bangsa yang besar dan akan menjadi berkat bagi dunia.

Perjalanan hidup yang dilalui oleh Abram menimbulkan keluh kesah dalam dirinya, dimana dia mengeluhkan tentang keluarga serta keturunan yang akan mempengaruhi silsilah kehidupannya pada waktu yang akan datang. Keluhan yang ada itu tidak didiamkan hanya berkecambuk dalam dirinya, tetapi dia ungkapkan saat perjumpaannya dengan Tuhan. Abram tidak ingin keluhan dirinya merusak iman dan kepercayaannya akan segala janji Allah didalam hidupnya. Keluhan yang disampaikannya itu mendapat tanggapan dari Allah seperti yang tertulis dalam pasal 15 : 1 – 6 ini. Hal ini juga-lah yang mengajarkan kepada kita, agar apapun yang menjadi  pergumulan atau persoalan hidup kita, marilah datang kepada Tuhan untuk menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Tidak ada satu hal apapun dalam hidup kita yang tidak mungkin untuk dapat dilakukan oleh Tuhan Allah. Kita diajak agar senantiasa percaya, menyerahkan kepada Tuhan serta bersabar menantikan campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita. 

Penjelasan 

Allah telah memberitahukan kepada Abram akan janjiNya pada awal pemanggilan Abram untuk keluar dari Ur-Kasdim dan dari tengah-tengah kehidupan orangtuanya, dimana Abram akan memperoleh berkat yang luar biasa serta keturunan yang besar dari Allah hal ini dapat kita lihat pada pasal 12. Semua janji Allah itu akan dicapai jika kita memiliki iman yang teguh dan kesetiaan dalam mengikuti serta menyembah Allah. Ada beberapa hal yang hendak kita pahami dalam kitab Kejadian 15 : 1- 6 ini yakni : 

Jangan takut dan khawatir, Allah mengetahuinya ( 1-3). Pada pasal 15 ayat 1 ini dibuka dengan firman Tuhan yang menjadi penguatan bagi Abram dan juga bagi orang percaya secara umum. Dikatakan Allah “jangalah takut”. Hal ini menggambarkan bahwa didalam perjumpaan Allah dengan Abram, Allah mengetahui situasi hati, mengetahui keadaan, kerisauan yang dialami oleh Abram.  Kenapa Abram merasa takut serta apa yang menjadi penyebab ketakutannya? Sedikitnya ada dua hal yang menjadi ketakutan dalam diri Abram pada saat itu yakni. 1. pada pasal 14 jelas sekali awalnya Abram memiliki kekhawatiran atas penguasaan dari kerajaan Kedorlaome, walaupun dia telah menang dan mampu melepaskan Lot, tetapi dia masih memiliki khawatiran serangan balik dari Kedorlaome dan pasukannya. 2. Kekhawatiran Abram berikutnya adalah hidupnya yang belum memiliki satupun yang menjadi keturunannya. Hal ini diungkapkan oleh Abram pada ayat 2 dan 3 pada pasal ini. sementera usianya tidak lagi tergolong muda, hal ini dapat kita lihat dari Kejadian 16 : 16 bahwa sewaktu Ismael lahir umurnya telah 86 tahun. Situasi yang dihadapi ini menguncang kehidupan Abram dimana janji Allah berbeda dengan realita yang sedang dihadapinya dimana hidupnya semakin tua dan renta. Disamping itu dalam menjalani interval waktu antara janji dengan realita yang akan diterima tidaklah mudah, tentu banyak tantangan yang membuatnya lemah dan putus asa. Demikian halnya dalam kehidupan kita, banyak sekali yang menjadi kekhawatiran kita ditengah-tengah kehidupan saat ini terlebih dalam situasi pandemic yang belum juga berakhir. Hal ini kiranya tidak membuat iman percaya kita menjadi goyah tetapi tetap teguh karena Tuhan mengetahui serta akan memberikan berkatNya yang berlimpah kepada kita. Karena hanya Tuhana Allah adalah tempat untuk kita menyatakan seluruh kerisauan dan Allah siap untuk mendengar serta memberi solusi kepada kita.

Allah merespon apa yang menjadi pergumulan Abram. (4-5 ). Ketika iman percaya kita berhadapan dengan logika pikiran serta keinginan diri, maka seringkali terjadi benturan yang menimbulkan keraguan dalam hidup kita. Hal ini juga dirasakan oleh Abram dalam nats ini, dimana dengan usia yang telah lanjut belum memperoleh ahli waris atas apa yang dimilikinya, maka sesuai tradisi yang ada, yakni hambanya lah yang akan menjadi ahli waris seluruh hartanya. Hal ini menjadi suatu pergumulan yang serius dalam hidup Abram. Ditengah-tengah keraguan inilah datang respon Allah atas pergumulannya yakni jangan takut, upah orang yang beriman dengan setia sangat besar. Hal ini memanggil kita agar jangan hanya focus kepada persoalan atau pergumulan sehingga lupa akan kasih karunia serta berkat Tuhan yang senantiasa dicurahkan dalam hidup kita. Kemudian Allah menjawab bahwa yang menjadi pewaris bagi kehidupannya adalah anaknya, darah dagingnya dengan Sara. Dengan pernyataan ini, Allah memberikan penguatan kepada Abram serta penegasan kembali akan janji yang telah Tuhan sampaikan kepadanya. Allah juga mengajak Abram keluar untuk melihat pembuktian yang akan diadakanNya kepada Abram, sangat jelas dinyatakan dalam ayat 5. 

Pada zaman dahulu, orang yang hendak melakukan atau mengadakan suatu perjanjian, mereka meresmikan perjanjiannya dengan memotong hewan dan mereka akan berjalan melewati potongan-potongan hewan yang dikurbankan itu. Peristiwa "memotong perjanjian" itu, bukanlah sebuah upacara kurban. Lebih tepat kalau dikatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan sebuah upacara suci, dengan melakukan itu orang tersebut menyatakan kesungguhan mereka untuk menaati perjanjian tersebut. Allah membawa Abram keluar dan mengatakan "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Tentu hal ini sangat susah untuk dilakukan, tetapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan, demikian juga halnya dengan berkat Tuhan yang akan dicurahkan Allah kepada Abram, hal yang mustahil dalam pemikiran Abram dapat dilakukan oleh Allah. Ditekankan Allah kembali dengan perkataan "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Hal ini menunjukkan kesungguhan Allah di dalam memenuhi perjanjianNya, dalam hal ini Allah yang berinisiatif mengadakan perjanjian itu serta menggenapinya.  Janji Tuhan itu pasti! Allah tidak akan ingkar janji. Penggenapan janji Allah kepada Abram terjadi tidak seperti membalikkan telapak tangan, namun Allah menginginkan kesetiaan iman Abram setiap waktu. Seperti halnya janji Allah kepada Abraham untuk menjadi bangsa yang besar mempunyai proses yang panjang mulai dari lahirnya Ishak, Yakub hingga ke 12 anak-anak Yakub sampai kepada Musa dan sampai kepada Tuhan Yesus sebagai penggenapan janji Allah, tentu bukanlah waktu yang singkat.

Respon Abram atas janji yang dinyatakan Allah kepadanya (ay.6). Sangat  jelas sekali dalam penekanan ayat 6 ini bahwa Abram sangat yakin sekali akan imannya dan janji Tuhan Allah yang dinyatakan kepadanya. Telah terjadi proses peneguhan dan penguatan dalam diri Abram melalui pernyataan janji Allah. Serta melalui kesungguhan iman Abram inilah dipakai Allah sebagai pembenaran atas diri Abram. Keimanan dan pengharapan Abram kepada janji Allah tidaklah hanya sebatas kebutuhan akan keturunan sebagai ahli waris dalam hidupnya seperti yang dinyatakannya pada awal nats ini. tetapi sampai kepada kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang menjadi keselamatan bagi setiap orang atau bangsa. Pembenaran Allah terhadap Abram dalam ayat ini tidak langsung mengubah hidup Abram langsung menjadi orang kudus, tetapi pembenaran ini menyatakan kelayakan Abram datang kehadapan Tuhan Allah. Pembenaran yang dinyatakan pada ayat 6 ini, bukanlah hasil dari inisiatif dan upaya Abram yang mengimani Allah tetapi penyataan Allah atas diri Abram yang tetap setia meskipun apa yang dijanjikan Allah itu berbeda jauh dengan realita hidupnya. 

3. Renungan. 

a. Manusia sering kali mengalami ketakutan dalam menjalani kehidupan ini hanya karena persoalan harta atau ekonomi. Sehingga banyak orang mempertaruhkan hidupnya untuk memperoleh harta dunia ini. Tetapi setelah orang itu memperoleh harta dengan cara bersusah payah, dia mengalami kesulitan untuk mengelolanya. Banyak orang tidak mampu menggunakannya secara benar menurut kehendak Tuhan. Lebih menyedihkan lagi mereka harus memikirkan harta yang diperolehnya itu untuk diwariskan kepada siapa ketika ia akan meninggalkan dunia ini. Sungguh suatu gambaran khawatiran yang tidak baik, sementara mereka tidak memiliki khawatiran apakah menjadi ahli waris kerajaan sorga atau bukan.

b. Kehadiran anak menjadi sangat penting di dalam budaya kita suku batak. Salah satu fungsi anak adalah menjadi ahli waris apa yang akan kita tinggalkan. Pertanyaannya apakah hanya setaraf itu fungsi anak bagi kita? Wariskanlah kepada anak-anak kita iman percaya pada Tuhan Yesus. Melalui iman percaya itu, mereka bukan saja diberkati Tuhan dengan harta yang ada di dunia ini, tetapi juga harta sorgawi serta Tuhan akan memampukan mereka menghadapi tantangan dunia ini.

c. Janji Allah kepada Abram yakni akan diberikan keturunan sebanyak bintang di langit, hal ini semakin meneguhkan iman percaya Abram kepada Allah. Dengan keteguhan iman itu menjadi pembenaran dalam hidup Abram, demikian halnya didalam kehidupan kita saat ini, sangat dibutuhkan keteguhan, kesetiaan dan kesungguhan di dalam beriman kepada Tuhan Allah. Setia didalam iman akan membawa kita kepada pembenaran dari Allah yang melayakkan kita datang menyembahnya. Untuk itu serahkanlah segala jalan hidupmu kepada Tuhan, maka Tuhan akan merancangkan yang benar bagi kita. Amin.

Tidak ada komentar:

Psalmen 113: 1-9

Bahan Sermon Jamita Minggu XIV Dung Trinitatis, 18 September 2022 “DIPATIMBUL DEBATA DO ANGKA NA DANGOL” (Psalmen 113: 1-9) Patujolo ...